Tito Karnavian: Kaka Paul Tidak Hanya Menjadi Pemimpin Tingkat Lokal, Tapi Kader Pemimpin Nasional

Baliho Paulus Waterpauw di Keerom

JAYAPURA ,wartaplus.com - Awal tahun 1983, saat mengikuti tes AKABRI di Magelang,bsaya tertarik dengan seorang peserta dari kontingen Jawa Timur. Penampilannya seperti orang Papua. Badannya tinggi dan berwajah ganteng. Saat saya mendekati dan menguping pembicaraannya dengan teman bicaranya, saya lebih kaget lagi. la berbahasa Jawa logat Jawa Timuran yang amat kental. Saya berkenalan dan ia dengan sopan dan senyum mengatakan namanya "Paulus Waterpauw" dari Surabaya, tapi kelahiran Fak-Fak Papua. Ini dikatakan Tito Karnavian dalam buku "Biografi & Jejak Pemikiran Paulus Waterpauw Mengabdi Dengan Hati.

Dalam buku tersebut di halaman 103-105 diungkapkan Tito Karnavian, setelah lulus AKABRI dan pendidikan di Magelang selesai 3 bulan, saya dan Paulus sama sama ditempatkan di Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang. Hubungan kami makin baik dan bahkan amat akrab. Bukan hanya sekedar teman, tapi sahabat dekat (comrade). Saya menyukai  pribadinya yang tenang sabar, enak diajak bicara, intelektual dan amat sopan.

Pengalaman yang tidak terlupakan, saya dan Paulus  diangkat bagai anggota Lembaga Musyawarah Taruna (Lemmustar) yang mewakili angkatan saya Rekonfu. Nah, kita pernah di "gebuk" senior karena teman  angkatan dianggap membuat kesalahan kolektif.

Saya yang berbadan kecil mental ketika digebuk, tapi Pauluss yang berbadan besar malah makin digebuk makin makin Paulus
maju. Habis digebukin, kita pulang ke kamar dan makan indomie rebus bersama sambil cerita soal penggebukan tadi

Tingkat empat di Akpol, karena kualitas kepribadian yang mengesankan, teman-teman Satu angkatan memilih Paulus sebagai komandan batalyon. la dipilih bukan karena ia orang Papua, tetapi memang benar-benar karena kualitas kepemimpinannya yang menonjol. Banyak permasalahan angkatan dan pribadi teman satu angkatan diselesaikannva dengan baik, dan mampu menjembatani gap antara taruna dan instruktur.

Saya kemudian bertugas di Jakarta dan Paulus di Jawa Timur. Meski jauh, komunikasi masih terus berjalan baik. Kita kembali bersama dalam pendidikan di Perguruan Tinggi lImu Kepolisian selama dua tahun. Pengalaman berkesan di PTIK ini, "Kaka Paul" demikian teman-teman memanggil Paulus, akan menikah dengan Roma Pasaribu, istrinya sekarang. Acaranya dilangsungkan auditorium PTIK, maka saya sebagai Ketua Senat sibuk sebagai panitia perkawinan.

Setelah itu kita tugas bersama lagi di Jakarta, saya dan Tangerang. Karena tugas, kita sering kali bekerja sama reserse Polda Metro Jaya dan “Kaka Paul" di Jakarta Pusat termasuk menanganí demonstrasi di depan Istana, di Monas, Bundaran Hotel Indonesia dan depan gedung MPR/DPR saat Paulus menjabat sebagai Kepala Pusat Pengendalian Operasi (Kapuskodalops) Polres Metro Jakarta Pusat.

Kita kemudian terpisah kembali ketika Paulus pindah tugas ke Papua dan saya sibuk menangani kasus-kasus terorisme di berbagai di Indonesia.  Namun karena hu-
bungan sudah amat  akrab, komunikasi jalan terus melalui telpon.

Tuhan seperti sudah mentakdirkan kita ber-
dua tidak boleh jauh-jauh. Tahun 2012 saya
ditugaskan sebagai Kapolda Papua dan
Paulus sudah menjabat sebagai Wakapolda.

Hubungan yang memang  sudah baik dan akrab  sejak taruna mempermudah kami berdua untuk menyusun satuan Polda
yang solid dan saling bahu membahu untuk menciptakan dan memelihara keamanan ketertiban di Papua.

Sebagai orang baru di Papua, saya belajar banyak dari "Kaka Paul" tentang Papua dan bagaimana mengorganisir tugas kepolisian di Papua

Saya memandang bahwa "Kaka Paul" ini memiliki kader pemimpin nasional. Kesabaran, ketenangan, merupakan modal utamanya untuk terus maju meniti karir  tidak hanya untuk menjadi pemimpin tingkat lokal, tapi kader pemimpin nasional

Kesabaran, ketenangan kemampuan berkomunikasi dan menjalin jaringan
nasionalisme yang tinggi serta intelektual yang amat baik merupakan modal utamanya untuk terus maju meniti karir di
kepolisian dan bahkan jabatan yang menentukan masa depan jabatan penting lain di luar kepolisian masa depan Negara Indonesia. I keep my Jngers crossed on you, bro! ***