Ketua Kohati HMI Pusat : Islam dan Teroris Sangat Jauh Berbeda

Aksi Bakar Lilin sebagai wujud belasungkawa dan keprihatinan terhadap korban teror bom bunuh diri di tiga Gereja di Surabaya  depan Gereja Gembala Baik Abepura, Minggu malam/ Roberth

JAYAPURA,-Tragedi memiluhkan kembali terjadi, tepat di dua puluh tahunan reformasi negeri ini. Aksi teror bom bunuh diri yang menyerang tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5), lantas ditanggapi oleh Ketua Umum Kohati Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Pusat, Siti F. Siagian.

Kata Siti, aksi terorisme ini sudah cukup membuat masyarakat resah dan berpotensi memecah belah antar umat beragama. Pasalnya, Siti mengungkapkan bahwa aksi terorisme selalu dituduhkan dengan Islam. Padahal menurutnya Islam dan terorisme adalah sangat jauh berbeda, karena Islam cinta damai.

"Mengingat masalah terorisme yang selalu terjadi ini merupakan isu yang membuat masyarakat resah. Walaupun aksi teror ini selalu dikatakan rekayasa atau settingan, tapi intinya aksi ini selalu mengorbankan orang-orang atau masyarakat awam yang sama sekali tidak kita ketahui entah apa salahnya sehingga merekapun ikut dijadikan korban," paparnya di Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan Papua di Kota Jayapura, Minggu (13/5).

Ungkap Siti, aksi teror bom bunuh diri yang menyerang tiga gereja itu seakan menegaskan bahwa Indonesia sebagai negara yang memiliki potensi terorisme yang besar. Oleh sebab itu, Pemerintah seharusnya mempunyai langkah yang cerdas untuk mengantisipasi permasalahan aksi terorisme ini. 

"Terkhusus aksi teror bom bunuh diri, aksi bom bunuh diri ini biasanya terjadi ketika ada momentum-momentum yang telah ditentukan, di hari-hari perayaan agama, misalnya natal dan sebagainya. Hal ini bisa disimpulkan bahwa aksi teror ini dilakukan secara terencana dan terstruktur," tegasnya.

Dirinya berharap, dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang dikucurkan setiap tahunnya, seharusnya para Aparat keamanan bisa meningkatkan kinerja dan kualitas kerjanya untuk tetap bisa menjaga dan melindungi masyarakat Indonesia. Apapun alasan yang melatar belakangi terjadinya aksi teror, seharusnya para aparat sudah bisa mengatasi dan mengantisipasinya. 

"Semoga kejadian Bom bunuh diri yang terjadi di Surabaya pada tanggal 13 Mei 2018 ini bukanlah sebuah atraksi dari perayaan dua puluh tahun reformasi," ujarnya. 

Prihatin

Pada kesempatan yang sama, hal senada disampaikan oleh Ketua Umum Badan Kordinasi (Badko) HMI Papua-Papua Barat, Nasrul menyikapi kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara dalam bingkai NKRI akhir-akhir ini dirasa semakin berada dalam curang ketimpangan, dimana rasa kebersamaan dan kekeluargaan telah terkoyak dikarenakan ulah beberapa tangan yang tidak memahami kebergaman yang merupakan keniscayaan kita sebagai anak negeri ini.

"Kami, Himpunan Mahasiswa Islam Papua- Papua Barat di ufuk Timur Indonesia merasa prihatin dengan kondisi ini serta mengutuk keras pelaku bom bunuh diri," tegasnya.

Ditambahkannya, kejadian penyerangan di Mako Brimob dan pengeboman Gereja di Kota Surabaya di saat Umat Khatolik sedang menjalankan ibadah minggu  pagi ini, merupakan sirine awal kebencian mereka terhadap keutuhan berbangsa dan bernegara kita

Oleh Karena itu kami Pengurus Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam Papua-Papua Barat dari Kota Jayapura Papua menyatakan sikap kami sebagai berikut, antara lain, Indonesia berduka, Badko HMI Papua-Papua Barat turut berduka atas korban pengeboman gereja di Kota Surabaya, Badko HMI Papua-Papua Barat mengutuk tindakan yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

 Badko HMI Papua-Papua Barat, tindakan pelaku merupakan tindakan intoleran dan tidak ada kaitan dengan dan atau  atas nama agama manapun terkecuali tindakan brutal manusia biadab tak beragama.

Kemudian, Badko HMI Papua-Papua Barat, meminta kepada pihak Kepolisian mengusut tuntas dan mengejar pelaku dan aktor dibalik pengeboman gereja di Kota Surabaya, dan meminta Kepada PB HMI di Jakarta agar mendesak pemerintah untuk segera menyelesaikan masalah ini.

Serta, Badko HMI Papua-Papua Barat menghimbau kepada seluruh kader HMI se-Indonesia dan Papua–Papua Barat khususnya untuk turut menjaga setiap gereja yang akan melaksanakan ibadah-ibadah gereja yang saat ini umat kristiani masih merayakan hari kenaikan Isa Al-masih.*